Komunikasi Persuasi Penjualan (bagian 1)

Pada zaman dahulu kala, ketika manusia hidup di zaman prasejarah dan ketika kehidupan sebagian besar berlangsung didalam gua gelap tapa penerangan sedikit pun, manusia harus melakukan banyak hal untuk dapat mengungkapkan pendapatnya kepada masyarakat di dalamnya.

Mereka marah ketika merasa lapar. Mereka beringas kepada lawan jenis guna mendapatkan kepuasan seksual yang mereka inginkan. Bahkan, mereka harus saling bunuh untuk mendapatkan pembagian makanan yang dianggap hak milik mereka.

Tujuan semua ini adalah memberitahu lawan bicara tentang apa yang sebenarnya mereka inginkan.

Namun sejak ditemukannya kata-kata, manusia dapat mengubah pikiran sesamanya atau bahkan memanipulasi pemikiran lawan tanpa harus melakukan apa-apa selain berbicara.

Contoh paling sederhana yang seringkali kita gunakan sehari-hari tatkala berbicara dengan teman kita adalah “Lebih baik kamu tidak memakan makanan itu. Rasanya seperti sampah!” atau, “Apakah kamu yakin ingin berpergian malam-malam begini dalam keadaan yang rawan dan tidak menentu seperti ini?” maka apa respon anda bila mendengar pernyataan seperti ini?

“Pernahkah anda mendengar bahwa peperangan hanya dimenangkan hanya dengan kata-kata?” 

Tahukah anda bahwa Hitler dapat mengumpulkan massa sebanyak itu, mengubah paradigma berpikir mereka, dan kemudian membuat mereka medukung aksi gilanya dengan hanya bermodalkan kata-kata?

Kata-kata terkadang dapat mendorong manusia untuk berbuat dan mengambil tindakan yang amat sangat diinginkannya tanpa harus melakukan sesuatu pun. Jelas hal itu dapat terjadi bila kita dapat menggunakan kata-kata yang dipilihnya secara tepat.

Atau, bagaimana bila saya katakan bahwa menggunakan kata-kata yang tepat, Anda dapat melakukan hal-hal yag selama ini tidak pernah Anda bayangkan sebelumnya?

Hal yang paling sederhana saja. Misalnya, mempengaruhi orang lain untuk melakukan apa yang Anda minta. Atau, menyelesaikan masalh Anda yang sebelumnya sulit Anda pecahkan sendiri. Atau mungkin mendapatkan posisi yang lebih tinggi lagi didalam pekerjaan, atau bahkan membaca pikiran lawan bicara sembari Anda berdialog dengannya.

Termasuk di dalamnya adalah menawarkan produk / jasa Anda kepada konsumen..

Penasaran?

Percaya saya, karena semakin lama materi ini akan semakin menarik..

Profesi lain yang jarang melibatkan interaksi sosial, seperti sekretaris, akuntan, ataupun programmer, bagaimanapun juga tetap melakukan unsur penjualan dalam kegiatannya, yaitu menjual kapabilitas ilmunya kepada pihak lain.

Faktor utama yang menjadikan proses penjualan tidak dapat dipisahkan dari kegiatan profesi lainnya adalah pemanfaatan komunikasi kepada pihak lain, baik secara langsung maupun tidak langsung. Faktor komunikasi ini bersifat mutlak, dalam kaitannya untuk menyampaikan ide/gagasan kepada pihak lain untuk disetujui/dipercayai.

Seorang penjual yang baik akan dapat disimpulkan sebagai seorang komunikator yang kompeten, yang mampu menyampaikan informasi manfaat dari barang/jasa yang dijualnya kepada pihak lain.

Hal inilah yang sebenarnya mendasari adanya suatu persamaan faktor dari kegiatan penjualan dengan ilmu Psikologi Persuasi: Teknik Mempengaruhi Konsumen yang dimiliki oleh tranceformasiindonesia®, yaitu komunikasi!

Karena Teknik ini sendiri adalah ilmu komunikasi yang menitikberatkan pada pikiran bawah sadar manusia (subconscious mind). Jadi pada prinsipnya teknik ini memanfaatkan kaidah-kaidah hipnotisme dalam berkomunikasi dengan pikiran bawah sadar untuk diterapkan dalam bidang penjualan.

Bagaimana menurut Anda? silahkan tinggalkan komentar Anda . . .

“bersambung . . .”

 

Best,
Bobby:Meidrie

Leave a Reply