Revolusi Digital Bagi SDM Digital

Untuk Anda yang sedang galau dalam hal karir, untuk yang sedang bimbang dalam kontemplasi akhir tahun, saya persembahkan tulisan ini.

Salah satu nasihat karir terbaik yang pernah saya dengar sepanjang tahun 2013 adalah: “be really good at what you do“. Bahwa kita harus fokus pada apa yang kita kerjakan, mengembangkan setidaknya satu keahlian, dan menjadi expert dalam hal tersebut.

Nasihat tersebut di antaranya saya dengar dari Handry Satriago, CEO GE Indonesia, Clifford Rosenberg, Managing Director Linkedin Asia Tenggara, Australia, dan New Zealand, serta dari pertemuan saya baru-baru ini dengan Stephanie Chai, Senior Executive Search Consultant Monroe Consulting Group.

Dalam kapasitas yang berbeda-beda — yang pertama adalah pemimpin perusahaan global, yang kedua adalah pengelola situs jejaring sosial profesional terbesar di dunia, dan yang terakhir adalah seorang headhunter yang fokus pada digital talent. Namun mereka memiliki nasehat yang sama terkait karir.

Spesialis vs Generalis
Kalau dulu mungkin seorang yang tahu banyak hal itu keren. Namun sekarang sudah bukan eranya generalis lagi. Setidaknya itu yang dapat ditangkap dari presentasi Handry Satriago dalam keynote penutup PortalHR Summit beberapa waktu yang lalu.

Menurut Handry, kini setiap orang dituntut untuk memiliki expertise masing-masing. Yang dicari company saat ini adalah orang-orang yang benar-benar menguasai suatu bidang, benar-benar mempunyai pengalaman, setidaknya 3-4 tahun dalam mengerjakan sesuatu, sehingga dia menjadi orang yang dapat mengambil keputusan yang tepat mengenai hal tersebut.

“Saya tidak butuh orang yang hanya mengikuti perintah saja, namun saya butuh orang yang mampu mengatakan “Tidak, boss, jangan lakukan itu. Saya menghadapi ini setiap hari dan saya tahu benar tentang ini,” demikian mengutip Handry Satriago.

“What You Know” Lebih Penting dari “Who You Know”

Dalam kesempatan yang berbeda Clifford Rosenberg (Linkedin) pernah menasehati para profesional agar tidak lupa untuk mengasah keahliannya. Dewasa ini banyak profesional yang terlalu fokus pada menambah network, di Linkedin misalnya.

“Dengan semakin mudahnya orang menambah koneksi melalui internet dan situs jejaring sosial seperti Linkedin, yang akan menjadi pembeda bagi pencari kerja adalah kemampuannya menunjukkan pengetahuan mendalam tentang industri di mana mereka berada,” kata Rosenberg.

Karena itu menurut Rosenberg, walaupun siapa yang kita kenal tetap penting, namun yang akan menjadi perhatian para rekruter adalah lebih pada apa yang kita ketahui dan apa keahlian kita.

Beberapa Tren Terbaru di dunia Rekrutmen
Revolusi digital telah melahirkan beberapa perubahan di dunia rekrutmen. Stephanie Chai dari Monroe Consulting Group menggarisbawahi beberapa tren yang diamatinya, yaitu:

  1. Proses rekrutmen yang lebih pendek. Sudah tidak jamannya lagi proses seleksi kandidat yang panjang dan ruwet. Ini terutama di dunia digital, apabila interview lebih dari 4 kali, kandidat pun mulai sebel. Dan proses interview biasanya berupa mengobrol di kafe, diskusi, bukan tanya jawab seperti di masa lalu.
  2. Reference checking sangat penting. Banyak klien Stephanie yang memilih kandidat hanya berdasarkan cek referensi ini. Reference checking bisa dilakukan dengan bertanya pada perusahaan tempat kandidat bekerja sebelumnya atau melalui akun-akun kandidat di social media.
  3. Tidak lagi cukup dengan mengirim CV. Dalam pasar talent digital saat ini, tidak lagi cukup hanya dengan mengirim CV kepada perusahaan yang Anda minati. Adalah lebih penting untuk mengasah kemampuan Anda dan membuat orang-orang mengetahui dan mengakui keahlian Anda tersebut.

Dalam kondisi pasar tenaga kerja yang sedemikian rupa, khususnya untuk industri digital, maka Stephanie mempunyai nasehat yang mungkin penting untuk kita dengarkan. “Stick with one company you really like, stop the vicious job hopping cycle from one company to another. Focus on what you do, and be really good at it.

Diambil dari PortalHR.com

Leave a Reply